BIJI
21.19 | Author: CORPS BRIBU
Aku tidak menyangka bahwa aku akan dilahirkan didunia ini. Aku juga tidak mengira bahwa aku menjadi aku yang sekarang ini. Padahal aku tidak pernah meminta dilahirkan disini dan dilahirkan seperti ini. Semua ini membuatku bingung. Terkadang terbersit sebuah keinginan untuk kembali seperti aku yang dulu. Namun, aku sendiri tidak pernah tahu siapa sebenarnya aku sebelum yang sekarang ini. Aku pun tidak tahu asalku dari mana. Bahkan kadang aku berfikir bahwa aku ini sebelumnya memeng tidak pernah ada. Tapi aku mencoba untuk menerima apa yang aku alami ini. Walaupun terkadang rasa ini membuat dadaku sesak dan ingin meledak.

Langit biru seolah-olah memayungi sebuah dataran hijau yang tak berbatas tepinya. Dari timur, barat, selatan, dan utara yang terlihat hanyalah karpet rumput berwarna hijau tua. Riuh riuk burung selalu mengisi kesunyian dengan suara merdunya membuat area menjadi gembira. Namun, bagiku itu hanyalah nada suram penuh ejekan yang dilontarkan untukku. Di tempat inilah aku pertama kali dilahirkan. Di padang savana inilah aku diadakan untuk menjalani sebuah kehidupan. Dan aku terlahir menjadi biji. Dengan sosokku yang sekarang aku harus menjalankan misi kehidupan. Sebuah misi yang berat. Karena aku sendiri tidak pernah tau, aku ini adalah biji apa.

Aku mulai mencoba memahami fenomena yang ada disavana. Sebuah pohon besar dengan batang kokoh menjualng ke langit. Akar-akarnya merambat jauh dan mencengkeram tanah dengan kuat. Dia begitu gagah dan proporsional. Tiba-tiba terbersit dalam lamunku untuk menjadi dan tumbuh seperti dia. Betapa bangganya aku kalau bisa tumbuh seperti dia. Aku bisa saja menantang langit kalau tubuhku sebesar dan sekokokoh itu. Tidak ada yang perlu aku takutkan dan aku cemaskan dalam hidup ini.

Ah, andai saja aku….. belum selesai aku berandai-andai, tiba-tiba dari arah selatan muncul angin topan yang menggulung-gulung disertai kilatan petir di atasnya. Sesuatu hal yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Topan itu semakin mendekat dan semakin dekat. Mengoyak dan menyapu habis semua yang dilaluinya. Sedikit-demi sedikit, topan itu brgerak mendekati pohon besar. Pohon besar itu terlihat tidak berdaya manakala topan menghempaskannya ke langit dengan akar yang sudah tercerabut. Akar-akar yang begitu kuat, batang pohon yang begitu kokoh tidak mampu melawan amukan topan yang menggila. Topanpun berlalu. Yang tersisa kini hanyalah onggokan kayu besar tanpa nyawa. Sebuah onggokan kayu yang mati tercabik-cabik dan luluh lantak. Aku sungguh tidak bisa membayangkan, bahwa sepuluh menit yang lalu dia adalah sebuah pohon kuat dan besar. Apa yang ada di hadapanku sekarang membuatku tidak percaya.

Perhatianku pun mulai beralih. Sekarang aku memalingkan pandanganku kearah sekawanan rumput liar. Sungguh luar biasa yang dapat aku lihat. Tak sedikitpun dia cidera. Tak sedikitpun dia terkoyak. Tak sedikitpun dia tercabi-cabik dan tercerabut dari akarnya. Dia masih utuh dan sempurna seperti sedia kala. Padahal area inipun tadinya juga terkena amukan topan. Sungguh luar biasa gumamku. Akhirnya, keinginanku untuk menjadi pohon besarpun tiba-tiba musnah dan berubah haluan menjadi keinginan untuk tumbuh seperti rumput liar. Dalam fikiranku, dengan tubuh seperi rumput liar akan membuatku lepas dari mara bahaya. Ternyata aku salah. Baru saja, satu koloni yang terdiri dari ribuan bison telah menyambangi savana ini dan melahap semua rumput yang ada.

Akupun menjadi ketakutan setengah mati. Aku tidak tahu akan memilih jalan hidup seperti apa. Aku terus termenung. Berpacu dengan cepatnya perjalanan waktu. Akhirnya, aku menemukan jalan hidupku. Aku sekarang sudah menjatuhkan pilihanku. Dan aku memilih untuk terus menjadi biji. Aku tidak tahu, keputusanku ini benar atau salah. Aku tidak pernah mencari persetujuan dan pembenaran atas semua keputusanku kepada siapapun. Dalam batinku, dengan cara seperti inilah aku akan selalu terhindar dari bahaya yang mengancam setiap waktu.

Ternyata keputusanku ini salah ketika ayam hutan mendekat dan memakanku. Akhirnya aku baru tersadar ketika tubuhku sudah berada pada jepitan paruh ayam yang kuat. Aku baru sadar bahwa setaiap keputusan dalam hidup selalu mengandung adanya resiko. Entah besar atau kecil. Namun, kesadaranku sudah terlambat. Aku sudah diambang kematian, tanpa aku bisa merasakan nikmatnya sebuah kehidupan..
This entry was posted on 21.19 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: