HIDUP VS MATI
20.49 | Author: CORPS BRIBU
Jarang sekali orang yang mau menulis ulasan tentang kematian. Kematian seolah-olah menjadi momok yang menakutkan. Kematian seolah-olah menjadi sesuatu yang paranoid untuk dibahas. Sehingga banyak orang yang sengaja menghilangkan kata-kata kematian di dunia ini. Kalau diamati sekarang ini, kata kematian seperti menghilang dan lenyap dari bumi. Kata kematian sudah ditelan oleh hiruk pikuk jaman.

Berbicara tentang kata mati ataupun kematian, maka harus juga berbicara masalah hidup atau kehidupan. Karena bukan tidak mungkin ada kata mati tanpa ada kata hidup. Untuk melalui fase kematian, mahluk hidup harus melalui fase kehidupan terlebih dahulu. Saya pikir anda juga setuju kan????. Pernah suatu ketika saya membaca bukunya Nietzsche.

Nietzsche merupakan seorang filosof dari Jerman. Beberapa pemikirannya banyak dianggap radikal oleh beberapa kalangan. Saya pikir, memang itu benar adanya. Tetapi yang perlu saya tegaskan bahwa Nietzsche begitu penuh keoptimisan dan ketegasan dalam memahami, memaknai, dan menghadapi kehidupan. Dia mengajarkan teori “manusia unggul”. Dalam teori ini, Nietzsche melontarkan pemikiran bahwa, untuk meraih manusia yang unggul seseorang harus memiliki tiga hal. Yakni, kekuatan, kecerdasan, dan kebanggaan. Tanpa ketiga unsur itu menurut Nietzsche, manusia akan termarginalkan dalam kerasnya persaingan hidup.

Pemikiran Nietzsche, sungguh jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Mussasi, dia berkata bahwa, kekuatan dan kecerdasan bukanlah segala-galanya untuk meraih sebuah kemenangan.

Sayangnya dengan pemikiran tentang manusia unggul, Nietzsche secara radikal juga mematikan eksistensi dari Tuhan. Menurutnya Tuhanlah yang menyebabkan manusia menjadi lemah. Manusia akan terus terbelenggu dan tidak memperoleh kemerdekaan, selama manusia tidak mematikan eksistensi Tuhan dalam diri setiap manusia.

Dalam Aldus Sprach Zarathustra, Nietzsche berkata “aku ajarkan kepadamu manusia unggul. Dahulu dosa yang terbesar adalah dosa melawan Tuhan, tetapi Tuhan sudah mati, dan bersama dia matilah pula mereka yang berdosa”. Dengan mematikan eksistensi Tuhan, Nietzsche berharap, bahwa manusia akan menjalani dan menghadapi hidup dengan bebas tanpa rasa takut adanya beban dosa. Manusia harus berani dalam mengadapi setiap pergulatan dalam hidup. Tanpa diiringi dengan mental pemberani dalam mengarungi kehidupan, manusia akan tergilas oleh roda jaman yang tidak pernah memandang bulu. Dalam dogmanya, Nietzsche ingin mengajarkan kepada manusia untuk berani menghadapi hidup meski penderitaan akan selalu menghadang setiap langkah. Karena setiap penderitaan yang kita kecap akan menghantarkan pada sebuah sisi kenikmatan.

Tampaknya Nietzsche juga memandang sama antara kehidupan dan kematian. Jika kehidupan harus dihadapi dengan penuh keberanian, maka kematianpun harus di hadapi dengan keberanian pula. Nietzsche berkata “kematianku kupujikan, maut yang bebas dan datang padaku oleh karena aku menghendakinya. Bebas untuk mati dan bebas dalam maut, mampu berkata ‘tidak’ dengan ikhlas bilamana saat untuk berkata ‘ya’ telah lewat…”.

Nietzsche, dalam statmenya ingin mengatakan bahwa kematian tidak perlu dikakutkan. Karena jika tiba waktunya maka kematian tidak akan bisa kita tolak. Seperti halnya kita tidak bisa menolak kehidupan yang kita rasakan sekarang. Oleh karena itu kematian harus di hadapi dengan penuh keberanian dan keihlasan.

Sekarang, yang seharusnya menjadi bahan renungan adalah, sudahkah kita menyiapkan perbekalan yang cukup untuk dibawa mati. Karena sudah jelas bahwa akan ada kehidupan setelah kematian. Sebuah kehidupan yang jauh berbeda dengan kehidupan sekarang. Sebuah kehidupan yang keberhasilannya ditentukan oleh kehidupan sekarang. Pertanyaan yang timbul adalah, sudahkah kita mengumpulkan perbekalan yang cukup banyak?????. Jikalau saja itu belum kita lakukan, marilah kita bersama-sama mulai mengumpulkan perbekalan untuk menghadapi kematian. Bukan tidak mungkin maut sekarang sedang mengintip dan mengendap-endap untuk menangkap dan menerkam kita. Hidup merupakan sebuah kepastian yag tidak pasti, sedangkan kematian merupakan kepastian yang pasti adanya.
This entry was posted on 20.49 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: